konflik sektarian Myanmar, Akar Persoalan Bermuara pada Arogansi Etnis Burma

Akar dari ketegangan politik utama di Myanmar bermuara pada perseteruan sektarian di antara kelompok etnis di Myanmar. Demikian tulisan Sai Wansai pada 27 Januari 2004, yang dituangkan di situs http://www.boxun.com. Ia adalah etnis China, yang merupakan salah satu etnis minoritas di Myanmar.

Pada 18 Juni 1989, nama negara Burma diubah menjadi Myanmar. Ini adalah usaha artifisial junta militer untuk menunjukkan, Burma bukanlah Myanmar atau Myanmar bukanlah Burma (Bamar). Junta militer sengaja mengubah nama negara agar etnis non-Burma merasa menjadi bagian dari negara.

Etnis Burma, berasal dari Tibet, merupakan etnis mayoritas di Myanmar. Namun, etnis Burma adalah kelompok yang datang belakangan di Myanmar, yang sudah lebih dulu didiami etnis Shan (Siam dalam bahasa Thailand). Etnis ini pada umumnya menghuni wilayah di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar.

Sebelum Burma datang, selain etnis Shan, juga sudah ada etnis Mon, yang menghuni wilayah selatan, juga dekat perbatasan dengan Thailand.

Sebagaimana terjadi di banyak negara, di antara tiga etnis utama di Myanmar ini terjadi perang. Satu sama lain silih berganti menjadi penguasa di daerah yang dinamakan Burma, kini Myanmar. Inilah yang terjadi, perebutan kekuasaan, sebelum kedatangan Inggris pada 1885.

Ada juga etnis lain di Myanmar (lihat grafik), yang kemudian turut meramaikan ketegangan politik sebelum penjajahan dan pasca-penjajahan Inggris. Misalnya, ada etnis Rakhine, lebih dekat ke Banglades dan China dengan kedekatannya ke India.

Saat penjajahan, berbagai kelompok etnis ini berjuang untuk satu tujuan, mengakhiri penjajahan. Setelah penjajahan berakhir dan merdeka pada 4 Januari 1948, makin terjadi kontak lebih ramah antara etnis Burma dan semua etnis non-Burma.

Burmaisasi

Aung San, ayahnya Aung San Suu Kyi, bersama U Nu adalah tokoh utama di balik kemerdekaan dan menjadi pemimpin negara. Akan tetapi, pada tahun 1962, militer yang didominasi etnis Burma mengambil kekuasaan negara. Ne Win adalah otak di balik kudeta itu.

Cikal bakal junta militer sekarang (disebut sebagai Dewan Negara untuk Perdamaian dan Pembangunan/SPDC) berasal dari kekuasaan Ne Win itu. SPDC didominasi Burma.

Konfigurasi kekuasaan, hak pun menjadi tidak berimbang antara etnis Burma yang mendominasi dan non-Burma yang merasa ditindas.

Muncul perlawanan dari beberapa etnis non-Burma, termasuk Karen, yang mendominasi wilayah pegunungan di utara, yang dikenal sebagai golden triangle (segitiga emas).

Burma memilih cara apa pun untuk mencegah hal itu terjadi. Sejak 1960-an, terjadilah diaspora warga Myanmar. Berbagai warga Myanmar dari kelompok etnis kini tinggal di Thailand, Banglades, China, Laos, dan India. Semua negara ini berbatasan langsung dengan Myanmar.

Kemenangan kubu demokrasi, pimpinan Aung Suu Kyi pada pemilu 1990, tak dikehendaki kelompok Burma. Kubu Suu Kyi dan non-Burma lainnya merupakan ancaman bagi supremasi etnis Burma. Kemenangan Suu Kyi pun dihadang. Kekuasaan pun direbut. Beginilah yang terjadi seterusnya dan seterusnya.

Simon Saragih / Kompas

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: