Myanmar, Sejarah Itu Belum Selesai Dicatat…

Tahun 1992 bulan September. Myanmar di bawah kendali Dewan Pemulihan Hukum dan Ketertiban Negara mencoba membuka diri dengan mencabut keadaan darurat dan membolehkan wartawan asing masuk ke negeri yang memberlakukan undang-undang darurat sejak tahun 1989.

Kompas mendapat kesempatan masuk ke negeri yang saat itu sedang berada di titik nadir baik politik maupun ekonomi. Tak ada investasi masuk. Pemegang kendali, Dewan Pemulihan Hukum dan Ketertiban Negara (State Law and Order Restoration Council/SLORC), yang mendapat tekanan Barat, berusaha menunjukkan wajah manis.

Ketertutupan itu mengakibatkan merosotnya perekonomian. Nilai riil Kyat jatuh. Saat junta Myanmar menetapkan kurs 1 dollar AS sama dengan 6 kyat, maka di pasar gelap yang terjadi adalah 1 dollar AS bisa ditukar dengan 100 kyat-115 kyat.

Mendarat di Yangon, ibu kota Myanmar saat itu dengan pesawat Fokker-27 yang berkarat di sebagian tempat duduknya, Kompas mendapati kenyataan betapa kondisi Myanmar tertinggal lebih dari dua dekade dari Indonesia saat itu. Yang disebut taksi adalah mobil merek Mazda “kotak sabun” tahun 1960-an dengan jok dari papan.

Rakyat haus akan penghasilan yang lebih baik. Pasar gelap bertebaran. Begitu duduk di taksi, kenek taksi langsung menjulurkan segepok mata uang kyat. Padahal, pengawasan junta begitu ketat: mata uang dan segala jenis perhiasan orang asing harus dicatat di selembar kertas yang harus diisi pendatang.

Batu berharga yang merupakan kekayaan tambang di Myanmar benar-benar dikuasai negara. Hanya sekali setahun dilakukan pameran dagang batu berharga. Jangan sampai lupa mencatatkan jade, rubi, atau batu berharga lain jika tak ingin kesulitan saat keluar Myanmar.

Naik bus antarkota—semua transportasi antarkota dikuasai negara—dengan harga seperti bus AC antarprovinsi waktu itu, yang didapat adalah bus dengan starter engkol (slenger) yang sesak padat sehingga Kompas harus menapaki di atas karung yang menyesaki gang antartempat duduk. Jangan ditanya lagi soal gerahnya, baunya, warna catnya, atau tempat duduknya yang keras. Ayam serta kambing ikut berjejal.

Maka, ketika rakyat menjerit setelah kenaikan harga bahan bakar minyak dan tak kuasa menahan keputusasaannya, tidak heran mereka memilih mati daripada hidup yang sekadar hidup- hidupan, yaitu ketika kebebasan bersuara dan berpolitik dibungkam dan hak untuk hidup layak pun diberangus. Sejarah buram Myanmar rupanya belum selesai dicatat…. (isw)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: