Harapan dari KTT Dua Korea

Selasa (2/10) kemarin terjadi pertemuan penting antara Presiden Korea Selatan Roh Moo-hyun dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Il.

Roh yang masuk ibu kota Korut, Pyongyang, dengan limusin terbuka disambut dengan seruan meriah oleh ratusan ribu orang, yang di antaranya menyebut “unifikasi nasional”. Roh merupakan presiden Korsel kedua setelah Kim Dae-jung yang pernah mengunjungi Korut semenjak Korea pecah jadi dua negara 60 tahun silam.

Seperti dilaporkan The New York Times, pemimpin Korsel datang dengan prakarsa berani: Kalau Korut mau menurunkan permusuhan dengan memangkas jumlah senjata, Korsel mau membantu membangun kembali perekonomian Korut yang lumpuh, misalnya melalui “Komunitas Ekonomi Bersama”.

Melalui pertemuan puncak ini, Roh juga ingin menguji kesungguhan Kim Jong Il dalam mengakhiri program nuklirnya, yang akan ditukar dengan bantuan ekonomi dan pemulihan hubungan diplomatik dengan AS dan negara-negara lain.

Dalam perjalanan dengan kendaraan darat selama 3,5 jam, Roh sempat turun dari mobil dan berjalan kaki saat melewati perbatasan. Ia pemimpin Korsel pertama yang melakukan hal itu karena pada KTT tahun 2000, Presiden Kim Dae-jung pergi ke Pyongyang dengan pesawat terbang.

Roh tampak amat mendambakan perdamaian. Pada hakikatnya, kedua Korea masih dalam keadaan berperang karena perang 1950-1953 tidak diakhiri dengan persetujuan damai, tapi hanya gencatan senjata. Namun, untuk mengakhiri ketegangan, Roh harus bisa membongkar kebuntuan, khususnya soal program nuklir.

Ini karena AS mensyaratkan, upaya apa pun untuk mengubah gencatan senjata menjadi perjanjian damai harus didahului oleh kemajuan dalam pembicaraan nuklir. Harus diakui, meski sudah menutup fasilitas nuklirnya, Korut belum bersedia membongkarnya, memusnahkan material dan senjata yang ada.

Ketika masalah substansial masih banyak yang harus dipecahkan, bertemunya kedua pemimpin pasti bermanfaat, setidaknya untuk memelihara komunikasi dan peningkatan citra kedua pemimpin. Juga diharapkan pertemuan itu akan menurunkan ketegangan dan mendorong perdamaian, yang kemudian membuka jalan bagi upaya perbaikan taraf hidup rakyat Korut yang menderita karena kekurangan bahan kebutuhan pokok.

Karena kedua Korea tidak dapat berjalan sendirian, kita juga berharap prakarsa damai yang ada mendapat dukungan dari negara-negara patron lainnya, khususnya AS dan China.

sumber: Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: