Junta Menebar Teror, Penggerebekan Rumah Terus Ditingkatkan

Junta Myanmar terus meneror rakyat dengan mengadakan patroli di jalan-jalan utama dan menggerebek sejumlah rumah serta wihara. Puluhan orang dilaporkan ditahan pasukan junta dalam penggerebekan sepanjang Rabu malam.

Saksi mata mengatakan, tentara dan polisi junta menggelar patroli di malam hari sambil meneriakkan ancaman melalui pengeras suara. “Kami punya foto-foto (kalian). Kami akan menangkap (kalian),” teriak tentara junta.

Warga yang tinggal di dekat Pagoda Shwedagon menceritakan, polisi junta menggerebek tujuh rumah di daerah itu sekitar pukul 03.00. Dalam penggerebekan itu, mereka mengangkut sejumlah laki-laki untuk diperiksa.

Sasaran pasukan junta adalah para pemimpin unjuk rasa. Namun, mereka juga menangkapi warga yang ketahuan memberi tepukan untuk menyemangati para demonstran.

Pegawai Program Pembangunan PBB, Myint Nwe Moe, suami, sopir, dan saudara iparnya termasuk yang digelandang ke kantor polisi malam itu. Namun, junta membebaskan mereka Kamis (4/10) setelah PBB mengecam keras penahanan tersebut.

“Banyak orang yang ditangkap sepanjang malam itu, tetapi sulit untuk memastikan berapa jumlahnya. Anda bisa melihat, tidak seorang pedagang pun di sekitar Pagoda Shwedagon yang kini bisa ditemukan,” ujarnya.

Sunai Pashuk dari Human Rights Watch mengatakan, jumlah warga yang hilang harus segera didata. “Kami masih ingin tahu di mana mereka kini berada dan bagaimana kondisi mereka. Sejauh ini, Pemerintah Myanmar tidak menghitung jumlah warga yang mereka tahan,” ujar Sunai Pashuk.

Operasi “pembersihan” yang dilancarkan junta diwarnai kekerasan. Sebuah rekaman video yang ditayangkan CNN, Rabu, memperlihatkan polisi dan tentara junta memukuli para demonstran sebelum menaikkan mereka ke atas truk.

Dalam sebuah adegan yang terekam kamera, sekitar enam anak muda tampak berjongkok di jalan. Tangan mereka diletakkan di atas kepala. Salah seorang dari mereka yang mengenakan kaus merah menjadi bulan-bulanan polisi junta.

Rekaman yang diambil tiga-empat hari lalu di pusat kota Yangon itu juga memperlihatkan seorang laki-laki tergeletak di tanah dengan kaus penuh darah.

Selain menggerebek rumah para demonstran, pasukan junta juga menggerebek sejumlah wihara. Sebuah laporan menyebutkan, pasukan junta memerintahkan para biksu untuk meninggalkan wihara mereka dan pulang ke rumah masing-masing. Dengan cara itu, junta berharap para biksu tidak bisa lagi berunjuk rasa di kota.

Kini, wihara-wihara di kota Yangon tampak kosong melompong. Warga yang tinggal di sekitar wihara tidak tahu apakah para biksu itu pergi atau ditahan polisi.

Bersembunyi

Teror yang ditebar junta di kota membuat warga ketakutan. Sebagian warga yang luput dari penahanan memilih bersembunyi atau melarikan diri dari rumah.

“Kami harus bersembunyi. Kami bergabung dengan pengunjuk rasa untuk mendoakan rakyat. Sekarang, saya tidak tahu apa yang terjadi, yang jelas kami harus sembunyi. Saya berharap semuanya akan segera kembali normal,” ujar seorang biksu yang tidak disebutkan namanya kepada AFP.

Sepanjang Kamis siang, jalan-jalan di kota Yangon menjadi sepi. Hanya polisi dan tentara junta yang terlihat di jalan-jalan.

“Secara kasatmata, Yangon terlihat kembali normal. Tetapi, di bawah permukaan, ketegangan dan ketakutan jelas masih ada,” kata Charles Petrie, seorang pejabat PBB di Myanmar.

(AP/AFP/REUTERS/BSW)
Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: