Propaganda, Lewat Media, Junta Nyatakan Ingin Damai

Ketika rakyat Myanmar tak bisa lagi mengakses internet dan mendengarkan siaran radio, junta gencar menjejali rakyat dengan propaganda dan slogan soal perdamaian.

Di surat kabar yang dikontrol pemerintah, beberapa pekan ini, dipenuhi slogan-slogan seperti “Kami Ingin Stabilitas”, “Kami Ingin Perdamaian”, dan “Kami Menolak Kerusuhan dan Kekerasan”. Slogan seperti itu, antara lain, dimuat di surat kabar The New Light of Myanmar.

Dalam propaganda itu, junta ditempatkan sebagai penjaga perdamaian dan stabilitas serta antikekerasan. Para demonstran dan biksu yang menuntut demokrasi diposisikan sebagai pembuat onar dan tidak suka perdamaian.

Media Myanmar sepenuhnya propemerintah dan menempatkan diri sebagai pihak yang menjelaskan tindakan-tindakan junta. Belum lama ini, televisi Myanmar, misalnya, menyiarkan berita bahwa junta menangani para demonstran dengan menggunakan kekerasan seminimal mungkin. Mereka tampaknya tidak terlalu hirau bahwa setidaknya ada 13 orang yang tewas dan ribuan orang yang ditangkap selama dua pekan terakhir.

Unjuk rasa tandingan

Ketika media internasional ramai-ramai menyoroti penggerebekan rumah-rumah aktivis dan wihara, media di Myanmar justru memuat unjuk rasa yang digelar kelompok propemerintah yang digelar di hampir seluruh Myanmar beberapa hari ini. Unjuk rasa itu, menurut The New Light of Myanmar, dihadiri sekitar 36.000 orang.

Media Myanmar tidak tertarik menelusuri kasus pemaksaan warga untuk ikut serta dalam unjuk rasa antipemerintah seperti diberitakan sejumlah media asing yang mengutip media bawah tanah aktivis Myanmar, seperti majalah Irrawaddy.

Majalah tersebut pada edisi hari Selasa lalu menyebutkan, milisi junta memaksa warga Taungdwingyi untuk menghadiri rapat umum. Warga yang menolak akan didenda 10.000 kyat (7,1 dollar AS). Sementara warga yang datang diberikan imbalan 3.000 kyat (2,1 dollar AS).

Kamis (4/10), junta menyebar propaganda terbaru melalui media. Dalam propagandanya, junta mengingatkan rakyat bahwa ada kekuatan asing yang mencoba menghancurkan negara itu. Junta juga menegaskan bahwa media asing hanya menyiarkan kebohongan.

Begitulah, slogan dan propaganda muncul setiap hari dan memengaruhi kesadaran mayoritas publik. Propaganda semacam itu bukan monopoli junta Myanmar sebab itu praktik lazim dilakukan semua kekuatan di dunia. Namun, ada yang melakukan secara sangat halus, ada yang vulgar. Ada yang bermotif politik, ada yang bermotif ekonomi. (AP/BSW) Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: