Polisi Irak dengan Senjata China

Ketika mendengar berita Irak membeli senjata dari China, reaksi spontan mengatakan, mungkin saatnya Irak kembali membangun aparat keamanannya.

Namun, ketika mencermati berita itu, di dalamnya ternyata terdapat sejumlah implikasi. Presiden Irak Jalal Talabani menyatakan, negaranya memesan perlengkapan militer ringan dari China senilai 100 juta dollar AS untuk melengkapi kepolisian. Pesanan dilayangkan ke China karena AS tidak bisa menyediakan material tersebut dan juga terlalu lamban dalam mengirimkannya.

Jika alasan itu benar, Irak memang berhak untuk selangkah demi selangkah menegakkan kemandirian, apalagi ketika desakan semakin keras agar pasukan pendudukan angkat kaki dari negeri yang sudah hampir lima tahun terakhir dilanda kekerasan itu.

Namun, di kalangan AS sendiri rupanya timbul reaksi khawatir terhadap transaksi tersebut. Analis—seperti dikutip harian The Washington Post Kamis lalu—mengatakan, Pemerintah Irak membeli senjata lagi, padahal yang diberikan AS sebanyak lebih dari 190.000 pucuk saja tak jelas rimbanya. AS yakin senjata itu sudah jatuh ke tangan milisi Shiah dan Sunni, pemberontak dan kekuatan lain yang ingin membuat Irak terus tidak stabil, juga yang ingin menjadikan tentara AS sebagai sasaran.

Masalahnya, kata Rachel Stohl dari lembaga kajian independen Center for Defense Information, Pemerintah Irak sejauh ini tidak memiliki rencana jelas bahwa senjata tersebut nanti akan dibagikan, lalu dipantau dengan baik. Pemantauan penggunaan akhir akan berada di tangan pemerintah dan militer Irak, yang tampaknya belum siap untuk itu.

AS yang kini sedang mempersiapkan langkah selanjutnya di Irak berpandangan, kemampuan satuan keamanan Irak merupakan unsur penting bagi strategi AS untuk keluar dari Irak. Sementara sekarang ini, seperti dikatakan Presiden Talabani, hanya satu dari lima polisi Irak yang dipersenjatai.

Akan tetapi, kalau akhirnya Pemerintah Irak memesan sendiri senjata dari luar AS, ini juga karena AS dianggap tidak serius dalam membantu pembangunan kembali kepolisian dan militer Irak.

Di luar senjata, sesungguhnya yang harus diselesaikan lebih dulu adalah penyelesaian politik di antara pihakpihak yang berseteru. Kini tampaknya yang ada adalah upaya perdamaian dan rekonsiliasi yang ditegakkan dengan menghunus senjata. Kita khawatir justru ini akan memperpanjang konflik. AS sebagai penjual senjata sudah merasakan senangnya mendapatkan order miliaran dollar meski juga harus mengeluarkan miliaran dollar untuk invasi dan pendudukan terhadap Irak. / Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: