Terpaksa Menyeberang Perbatasan untuk Menyambung Hidup

Beratnya kehidupan di Myanmar memaksa penduduk di perbatasan menyerbu Thailand untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Setiap hari, sedikitnya 10.000 warga Myanmar dari kota perbatasan Myawaddi menyeberang ke kota Mae Sot di Thailand sebagai pekerja migran.

Berkat Jembatan Persahabatan Thailand-Myanmar yang membentang di atas Sungai Moei, penduduk Myanmar di perbatasan bisa memperoleh uang lebih banyak. Lewat jembatan, diresmikan pada Agustus 2007, warga memasuki Thailand pukul 06.00 dan kembali pukul 18.00.

Dari pusat kota Mae Sot, jembatan itu hanya berjarak sekitar 3 kilometer (km). Sepanjang hari tampak antrean orang yang hendak menyeberang. Mereka berdesakan melewati pos pemeriksaan imigrasi guna mendapat izin masuk selama satu hari.

Bagi orang non-Myanmar dan non-Thailand yang hendak masuk ke Myanmar, mereka dikenai biaya sebesar 500 baht (Rp 150.000). Kho Thoon, warga Myawaddi yang memperoleh pendapatan dengan mengantar orang asing keliling kota, mengatakan, penduduk di Myanmar sangat miskin. Mereka semakin terimpit saat junta militer Myanmar menaikkan harga bahan bakar minyak hingga 500 persen.

“Pendapatan rata-rata warga Myawaddi hanya 40.000 kyat (Rp 330.000) per bulan. Dengan bekerja di Mae Sot, mereka bisa mendapat 50.000 kyat hingga 60.000 kyat,” kata Kho. Jumlah itu, menurut dia, pas-pasan untuk hidup di Myawaddi. “Harga beras sebelum kenaikan harga BBM 1.300 kyat (Rp 10.500), sekarang naik menjadi 2.000 kyat (Rp 15.000) per kilogram,” ujarnya.

Harga bensin sebelumnya 1.600 kyat (Rp 9.600) per liter naik menjadi 2.800 kyat (Rp 12.600). Harga sebutir telur 1.000 kyat, daging sapi 6.000 kyat per kg dan ayam 5.000 kyat per kg. “Sebelum harga naik, mereka bisa makan nasi, daging, dan ikan. Sekarang mereka makan sedikit nasi dan sayuran,” tutur Kho.

Untuk meringankan pengeluaran, banyak warga Myawaddi menyekolahkan anak di sekolah gratis yang dikelola para biksu. Di Sekolah Biara Buddha, jumlah murid sekolah dasar mencapai 650 anak. Mereka diajari para biksu dan sukarelawan. “Di sini semua gratis. Anak-anak miskin bisa belajar,” ujar Kho.

Tak ada pekerjaan

Lapangan pekerjaan bisa dikatakan nol, tidak ada sama sekali. Sebagian besar warga Myawaddi hidup dari berdagang karena lahan pertanian sangat sedikit dan tidak ada industri yang menyerap tenaga kerja. “Tidak ada kegiatan industri modern yang menampung tenaga kerja,” kata Ma Pa Pa (37), pemilik toko pakaian di Myawaddi.

Ma Pa Pa, sarjana ilmu kimia industri dari Universitas Rangoon, terpaksa harus membuka toko pakaian untuk menyambung hidup. Dia berkulakan pakaian dari Mae Sot, Yangon, dan Bangkok kemudian menjualnya di Myawaddi. Jarak dari Myawaddi ke Yangon sekitar 400 km, delapan jam perjalanan darat. “Hampir di seluruh Myanmar, rakyat mengalami hal serupa. Mereka tidak punya pekerjaan,” tutur Ma Pa Pa.

Di sepanjang Jalan Lintas Asia, jalan utama yang membelah Myawaddi, berjajar toko-toko tempat orang menggelar dagangan, baik barang maupun jasa. Hanya di jalan besar dan lebar yang menghubungkan lima negara Asia, yaitu Thailand, Myanmar, India, China, dan Banglades, terlihat geliat perekonomian. Selebihnya, lahan luas dan kosong serta hutan milik pemerintah.

Di beberapa lahan kosong, pemerintah setempat menanam pohon jarak dan pisang. Sebelum jembatan penghubung dengan Thailand dibangun, kota Myawaddi sangat sepi. Kota terdekat Myawaddi, Kwayethaim, berjarak 120 km melalui pegunungan.

Ketika perekonomian mulai membaik berkat jembatan itu, banyak orang dari berbagai pelosok Myanmar datang ke kota berpenduduk 60.000 jiwa itu. Kebanyakan rumah penduduk yang jauh dari tepi jalan besar sangat sederhana, terbuat dari bambu dan berbentuk panggung. Itu pun harganya, kata Kho, sangat mahal, sekitar 500.000 kyat.

Kho menuturkan, banyak orang terpaksa menyelundupkan barang-barang dagangan mereka masuk dan keluar Myawaddi tidak melewati jembatan untuk menghindari bea cukai. “Barang-barang itu diangkut melalui sungai supaya orang tidak bayar pajak,” kata Kho. Begitulah warga Myawaddi menyiasati keadaan.

Di balik segala kesulitan, wajah Myawaddi tampak tetap tenang. Kepada orang asing, mereka tersenyum ramah. Hiruk-pikuk protes di Yangon dan beberapa kota besar tidak memengaruhi kehidupan di Myawaddi. Saat ditanya mengenai aksi protes, mereka enggan menjawab. “Itu hal yang berbahaya,” ujar mereka. Namun, seperti diwakili Kho dan Ma Pa Pa, tebersit harapan, di masa depan kehidupan di Myanmar akan lebih baik.

Fransisca Romana / Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: