Vida: Nerakalah Tempat Tentara Itu

Terjadi penurunan drastis jumlah biksu di jalanan. Di mana para biksu? Apa yang terjadi pada mereka,” kata penjabat Dubes AS di Myanmar, Shari Villarosa, Kamis (4/10). Ia dan stafnya mendatangi setidaknya 15 wihara dalam beberapa hari terakhir. Semua wihara itu benar-benar kosong. Ada wihara lain yang dikunjungi, tetapi dipasangi barikade dan tak boleh ada yang masuk.

Banyak orang khawatir dan bertanya-tanya, baik yang di dalam maupun di luar Myanmar. Setelah meramaikan jalanan dengan aksi protes damai, para biksu tak lagi terlihat, kecuali hanya satu atau dua. Warga yang tinggal di dekat berbagai wihara pun heran campur khawatir. Mereka melihat aparat telah menangkapi para biksu. Namun, mereka bertanya, bagaimana keadaan biksu yang ditangkapi itu. Cederakah atau keadaan lebih buruk telah menimpa rohaniwan mulia itu?

Muncul berita, bahkan dari media-media Pemerintah Myanmar, sebagian biksu ditahan, walau ada yang sudah dibebaskan. “Saya sangat khawatir soal nasib tahanan karena jumlahnya kemungkinan besar banyak. Tak ada pihak luar yang tahu dan diperbolehkan mengunjungi mereka,” kata Dubes Finlandia di Myanmar Lars Backstrom.

Saksi mata

Kemudian bermunculan berita, sejumlah biksu dipulangkan ke berbagai daerah atas perintah junta. Stasiun kereta dan bus di Yangon dalam pekan-pekan ini terlihat dijejali penumpang biksu. Sebagian lagi terpaksa lari dari wihara, yang telah berubah menjadi sasaran penyerbuan aparat junta, yang kebanyakan para pemeluk Buddha.

Salah satu biksu yang dibebaskan pemerintah kepada Reuters bercerita, “Beberapa biksu dipukuli di wihara karena menolak memberi tahu identitas mereka dan tak mau menjawab apakah mereka ikut protes.”

Di situs Timesonline.co.uk seorang biksu bernama Vida (48) juga bercerita. Ia berhasil melarikan diri dari Yangon dan menyeberang ke Thailand bersama dua rekannya.

Wajah dan bahasa tubuhnya menunjukkan keadaan di otaknya seperti mengidap trauma. Ia menjadi refleksi dari cerita horor tindakan junta sekaligus simbol tindakan heroik para biksu.

Ia tak tahu apa yang persis terjadi sejak Rabu (26/9). Pada saat melakukan aksi protes, tiba-tiba tentara datang dengan senjata dan menembaki. Vida langsung melarikan diri di tengah teriakan massa dan suara tembakan beruntun.

Vida lari ke sebuah kuil dan tinggal selama beberapa hari di Yangon bersama rekan. Mereka menghindari wihara, menghindari aparat yang sudah menyisir semua wihara. “Kini saya terpaksa membenci militer. Saya tahu, saya tak bisa bersikap begitu, tetapi saya tak bisa. Militer itu, nerakalah tempat mereka!” kata Vida lewat penerjemah.

(REUTERS/AP/AFP/MON) Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: