Biksu Beberkan Siksaan, Ada Tentara yang Gemetar, Minta Maaf dan Memohon

Tentara Myanmar tiba di berbagai wihara sebelum fajar dan kepada para biksu diberi tahu bahwa sarapan disediakan oleh militer di sebuah tempat. Karena itu, mereka semua dibawa dengan truk. Ternyata mereka dibawa ke sebuah ruang tak berjendela di sebuah kampus milik pemerintah. Di sana mereka diinterogasi, dipukuli, dan ditelanjangi.

Sekitar 400 lebih biksu telah dilepas menjelang pertemuan Dewan Keamanan PBB, yang berlangsung hari Senin (8/10), soal Myanmar. Mereka dilepas setelah ditahan enam hari dengan aneka penderitaan.

Seorang biksu berusia 18 tahun, yang dibebaskan, bercerita soal kisah penahanan itu. Biksu ini mengatakan, semua biksu yang dibawa menahan udara yang gerah, panas, dan pengap. Para biksu tidak memiliki toilet dan membuang hajat di lantai terbuka, serta hanya diberi makan sekali sehari dengan porsi yang sangat sedikit.

Ia juga menjadi korban pemukulan dan ditendangi. Ia mencoba menjalankan ajaran Buddha, yang dia anut, dengan berdoa agar militer bisa menemukan solusi damai. “Kami diperlakukan seperti tahanan di gedung, diminta menungging dengan kepala di bawah. Kami terus menungging selama dua hari dan kemudian ditelanjangi,” kata biksu itu kepada Agence France Presse (AFP).

Para biksu dari sekte yang bersekutu dengan militer diminta menelanjangi dan kemudian dipaksa menggunakan kaus oblong dengan sarung, seperti warga biasa. “Setelah ditelanjangi, kami ditinju, dipukul lagi dengan tongkat, dan ditendang,” katanya.

“Kami dibagi ke dalam 10 kelompok dan kemudian satu per satu ditanyai. Mereka menanyakan apakah kami ikut aksi protes dan siapa pemimpin di wihara kami,” katanya.

“Ketika interogasi berakhir, kami dipisahkan lagi ke dalam kelompok yang masing-masing beranggotakan 60 orang dan dikurung di sebuah kelas, di mana semua biksu disiksa lagi. Semua biksu memojok di sudut ruangan untuk membuang hajat ketimbang menggunakan sebuah toilet,” kata saksi itu.

Banyak biksu yang ditangkap atau lari ke desa-desa. Biksu muda yang selamat ini mengatakan bahwa beberapa tentara dibuat ketakutan sendiri dengan perlakuan mereka kepada para biksu itu. “Ada tentara pemeluk Buddha datang meminta maaf dan memohonkan pengampunan. Para tentara itu mengatakan, mereka terpaksa melakukan itu karena perintah atasan,” katanya.

“Sejumlah biksu mengatakan bahwa tentara Buddha itu akan berakhir suatu saat di neraka. Setelah itu ada di antara tentara itu yang menangis karena mereka sadar bahwa itu benar adanya,” katanya.

Dengan harapan akan membawa kedamaian, sejumlah tentara membawa air kepada para biksu yang masih disekap dalam posisi yang menyiksa.

Cucuran darah

Saksi ini mengatakan tergolong beruntung. Ia bercerita soal pencidukan para biksu dari Wihara Ngwekyaryan, Yangon, yang ditahan bersama dengannya. “Penyerbuan pada wihara Ngwekyaryan mengejutkan warga sekitar wihara karena melihat cucuran darah, pintu-pintu hancur, dan muntahan selongsong peluru di lantai-lantai wihara,” katanya.

Penyebab tragedi itu adalah perlawanan biksu di Wihara Ngwekyaryan terhadap tentara. Sebagian cedera serius. Mata mereka tertutup karena bengkak dan memar setelah dipukuli secara brutal. Biksu ini tak bisa melihat apa pun. Ada di antara para biksu yang mengalami cedera di kepala dan tangan. “Bahkan, sebagian dari biksu memiliki posisi tulang yang nongol dari kulit,” katanya.

Saksi ini mengatakan, ia dilepas setelah meyakinkan tentara bahwa ia tak pernah ikut aksi protes. Sementara biksu yang memprotes tetap ditahan. Ia kini berharap bisa kembali ke desanya untuk mencari ketenangan.

Biksu ini menegaskan, ia tidak akan marah kepada tentara yang menyiksanya. “Malah saya balik mencintai mereka sehingga suatu hari mereka menemukan kedamaian,” katanya.

Jenazah dikremasi

Dalam perkembangan hingga kemarin, jumlah tentara di jalanan kota Yangon sudah jauh berkurang, Situasi di tempat itu belum juga membaik.

Meski demikian, berdasarkan informasi yang dikumpulkan Koalisi Pemerintah Nasional (NCG) Myanmar, hingga Sabtu malam, truk-truk tentara masih beroperasi dari rumah ke rumah dan wihara untuk menangkapi orang yang dicurigai.

“Para tahanan terus dipindahkan ke tempat rahasia. Militer juga mulai melakukan kremasi secara diam-diam. Mereka membakar mayat-mayat yang entah berapa banyak jumlahnya,” kata Zin Linn, aktivis NCG, Minggu (7/10).

Zin Linn menambahkan, menurut beberapa saksi mata, ada di antara mayat yang dibakar itu belum benar-benar tewas. “Mereka hanya pingsan karena luka yang sangat serius, tetapi mungkin ikut tewas karena dibakar,” ujarnya.

Yang bisa dilakukan penduduk di Yangon kini hanya berdoa. Orang-orang mematikan listrik secara serentak pada pukul 20.00 hingga pukul 21.00. Semua lampu, radio, dan televisi dimatikan pada jam-jam tersebut dan penduduk mulai berdoa bagi mereka yang tewas atau ditangkap.

Warga Myanmar yang berada di pengasingan menyatakan kekecewaan mereka dengan hasil aksi protes mereka selama beberapa waktu lalu. Tidak ada tindakan nyata dari pihak mana pun terhadap junta militer Myanmar. Meskipun ada sinyal dialog antara pemimpin junta Jenderal Than Shwe dan Aung San Suu Kyi, mereka menilai dialog itu tidak ada artinya.

“Kami belajar dari masa lalu. Junta tidak akan mau begitu saja menyerah. Kami khawatir, dialog itu bukan dialog yang sungguh-sungguh,” kata Taw Nay Htoo, aktivis Burma Issues, yang berasal dari suku Karen.

Ia mengatakan, junta pernah melakukan hal sama, yaitu memberikan sinyal dialog saat menghadapi perlawanan suku Karen, tetapi kemudian mereka kembali menangkapi orang-orang Karen. “Junta tidak benar-benar ingin berdialog dengan Suu Kyi,” kata Htoo. (AFP/MON) Fransisca Romana/ Mae Sot, Kompas –

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: