Demi Anak, Seorang Ibu Berani Melawan Dua Negara

Sejak awal 1990-an, 3 Oktober selalu dirayakan sebagai Hari Nasional Jerman, memperingati bersatunya dua negara Jerman Barat dan Jerman Timur yang terpisah selama periode Perang Dingin. Persisnya November 1989, tembok Berlin jebol; secara simbolik hal itu adalah pertanda bahwa bergabungnya Jerman Barat dan Timur tak bisa lagi dicegah.

Hampir 18 tahun berlalu, generasi yang lahir sesudah peristiwa itu tidak lagi mengalami trauma pemisahan selama setengah abad. Generasi muda baru Jerman Barat dan Timur bisa tumbuh normal sebagai satu bangsa Jerman, tidak ada lagi dikotomi “barat dan timur”.

Tembok telah lama runtuh dan dibongkar. Daerah tempat tembok berdiri sudah berdiri bangunan, tempat hunian, kantor, supermarket, dan jalan-jalan baru. Postdamerplatz, yang dulu daerah demarkasi bagaikan alun-alun luas yang lengang, kini menjadi stasiun metro, teater, museum, pusat belanja, dan showroom barang mewah.

Di tengahnya ada Sony Center yang menjulang tinggi dan gemerlap sebagai tempat gaul dan kencan anak-anak muda. Jangan ke sana kalau tak punya uang, walau dijamin semua ada, dan tentu saja bisa diperoleh dengan harga turis yang ekstra mahal.

Namun, peringatan Hari Nasional Oktober 2007 agak berbeda dengan yang sudah-sudah. Sejak beberapa hari ini, seorang ibu menjadi pusat perhatian media dan politik di ibu kota Berlin.

Menjadi selebriti

Jutta Fleck, yang dikenal pada tahun 1980-an sebagai “die Frau vom Checkpoint Charlie” (satu koridor di Berlin di bawah otoritas Amerika Serikat) kini menjadi selebriti persatuan Jerman. Semua media Jerman (TV dan koran) ramai menjadikan perempuan tersebut sebagai pusat berita dan acara talkshow.

Kisah dramatis Jutta Fleck yang menyeberang dari timur ke barat (dulu masih bernama Jutta Gallus) diangkat ke layar perak dengan judul yang sama (die Frau vom Checkpoint Charlie).

Tahun 1980-an kisah pelarian Jutta Gallus bersama dua anaknya (Beate dan Claudia) dari Jerman Timur ke Austria melalui Romania, yang mirip lakon spionase ini, sempat mengguncang hubungan politik antar- Jerman Barat-Timur.

Tahun 1982 Jutta Gallus, seorang ibu yang tinggal di Dresden, memutuskan untuk “lari” ke Barat dengan membawa dua anaknya. Ini lantaran dia tak betah lagi hidup dalam belenggu kepura-puraan di bawah rezim yang otoriter dan kejam.

Waktu itu, penduduk Jerman Timur “dilarang” pergi ke negara Barat. Hukuman untuk yang nekat bervariasi, mulai dari pencekalan dan penjara, penyiksaan, bahkan tembak di tempat. Akan tetapi, hal ini tak membuat jera warga yang mendambakan “udara kebebasan”, termasuk Jutta.

Melalui koneksi saudaranya yang tinggal di Jerman Barat, Jutta bertekad lari mengambil jalur darat lewat Romania menuju ke Vienna (Austria). Di Bukares, Jutta berhasil mendapatkan paspor dan identitas baru dari Kedutaan Jerman Barat.

Ternyata langkahnya dibuntuti oleh agen intelijen Jerman Timur (Stasi) dan akhirnya Jutta disergap di Bukares. Dengan pesawat terbang, Jutta dan dua anaknya diterbangkan kembali ke Jerman Timur.

Di sana Jutta langsung dijebloskan ke penjara, sedangkan Beate dan Claudia dimasukkan ke rumah yatim. Selama dua tahun Jutta diinterogasi, disiksa, dan ditahan sebagai “pengkhianat negara”. Kedua anaknya dirampas oleh negara. Tahun 1984 rezim Jerman Timur memutuskan untuk menyingkirkan Jutta Gallus ke Jerman Barat, tetapi tanpa kedua anaknya.

Selama empat tahun berikutnya Jutta sudah menyandang nama Fleck dan menjadi warga Jerman Barat. Ia berjuang untuk mendapatkan anak-anaknya kembali. Praktis dia melawan dua negara saat itu, Pemerintah Jerman Barat dan Timur sekaligus.

Awalnya tanpa hasil, kedua pemerintah bergeming. Tanpa lelah Jutta berjuang melalui lobi HAM, parlemen, kongres internasional, dan terakhir dengan berdemo di Checkpoint Charlie.

Tanpa ragu, Jutta memasang spanduk-spanduk besar di depan gardu penjagaan yang isinya mengimbau masyarakat internasional untuk “menekan” rezim Jerman Timur dan Pemerintah Jerman Barat guna memperoleh kembali kedua anaknya.

Pernah saat Kanselir Helmut Kohl selesai berpidato, Jutta dengan nekat menyelonong ke mikrofon dan mengimbau Kanselir Jerman Barat itu agar bersedia menolongnya. Sempat dalam suatu kongres di Helsinki, Jutta mengikat dirinya dengan rantai sebagai protes. Dia juga berkali-kali mengundang para wartawan agar mengangkat isu pembebasan anak-anaknya sebagai berita.

Akibatnya, tahun 1986-1987 wajah Jutta Gallus kerap menghias berbagai majalah, koran, dan TV dengan judul die Frau vom Checkpoint Charlie, dan isu Jutta Gallus menjadi salah satu agenda pembicaraan antarmenteri luar negeri kedua negara Jerman.

Bahkan, eks Menteri Luar Negeri Jerman Barat sendiri, Dietrich Genscher, yang bergerak “meminta” rekannya di Jerman Timur untuk melepas kedua anak Jutta agar bisa bergabung dengan ibu mereka di Barat.

Tahun 1988, sesudah enam tahun berpisah, akhirnya Jutta Gallus bersatu kembali dengan kedua buah hatinya, Beate dan Claudia, tentu saja dengan jaminan “uang” yang disediakan oleh Pemerintah Jerman Barat.

Proses “pembebasan” dua anak ini mirip dengan peristiwa penyanderaan. Bedanya, yang menyandera bukan organisasi atau perseorangan, melainkan negara atau rezim pemerintah.

Dalam konteks 3 Oktober, hari persatuan Jerman, Jutta Fleck menjadi “simbol pembebasan”, satu-satunya perempuan yang berani melawan dan mengadu dua negara demi membebaskan kedua anaknya.

Kisah keluarga Gallus antara lain menjadi pembelajaran guna menangani proses rekonsiliasi dua Jerman. Jutta Fleck mengenal betul para pelaku penculikan dan kekejaman atas dirinya, mereka kini hidup bebas, tanpa cela atau hukuman dalam iklim Jerman bersatu.

Para oknum Stasi dan pengikut bekas rezim Jerman Timur masih berkeliaran bebas dan memiliki lobi kuat di bagian timur. Tidak jarang para pelaku kekejaman masa lalu itu menyebut diri sebagai “korban” Perang Dingin, sangat langka yang mau mengakui kesalahan, apalagi berani minta maaf kepada para korban.

Hampir 20 tahun sejak tembok Berlin runtuh, tetapi masyarakat Jerman masih menghadapi dilema dalam menyikapi korban dan pelaku kekejaman rezim Jerman Timur. Di satu pihak memaafkan dan melupakan masa lalu, dan di lain pihak dengan bijak dan proporsional memahami masa lalu guna memandang ke depan.

Seperti kata Jutta, “Saya hanya ingin mendengar penyesalan dan pernyataan maaf secara sukarela dari para pelaku kekejaman atas diri saya; tak lebih dari itu.” Namun, harapan tampaknya akan tetap tinggal harapan.

Denny Sutoyo-Gerberding Pembantu Kompas di Belanda
Denny Sutoyo-Gerberding / Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: