Kisah Mantan Tapol Myanmar, “Kami Diperlakukan seperti Binatang”

Wakil Myanmar di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kyaw Tint Swe (kiri) menyampaikan tanggapan atas laporan utusan khusus Sekjen PBB untuk masalah Myanmar, Ibrahim Gambari (kanan), dalam sidang Dewan Keamanan PBB di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Jumat (5/10) waktu setempat.

ekuasaan tangan besi di Myanmar telah menggoreskan banyak pengalaman menakutkan bagi rakyatnya. Ribuan penentang pemerintah ditahan tanpa pernah diadili, termasuk tokoh prodemokrasi Aung San Suu Kyi yang melewati sebagian besar dari 18 terakhir dalam hidupnya di penjara dan tahanan rumah.

Thet Oo adalah salah satu tapol yang berhasil melarikan diri dan kini hidup di kota perbatasan, Mae Sot, Thailand.

Thet mengisahkan pengalamannya mendekam 12 tahun di penjara karena menentang junta. Kepalanya menjadi sasaran yang empuk buat kaki-kaki para interogator. Berkali-kali interogator menendang kepalanya untuk membuat ia mengaku. Selama interogasi, kaki Thet yang pincang karena penyakit polio yang dideritanya semasa kecil, diborgol.

Ia diempaskan ke sel kecil dan gelap. “Mereka memperlakukan kami seperti binatang,” tutur Thet (46). Pada hari pertama interogasi, Thet langsung merasa pendengarannya hilang.

Sebelum ditangkap, Thet adalah pengawal Aung San Suu Kyi. Setelah Suu Kyi ditangkap tahun 1989, para pengikutnya pun diseret ke penjara-penjara.

Kelompok Assistance Association for Political Prisoners yang dibentuk dengan anggota sekitar 100 mantan tapol Myanmar, telah menyusun laporan bagaimana penyiksaan yang dialami para tawanan di penjara-penjara yang tersebar di Myanmar. Para tahanan dipaksa untuk saling berhubungan seksual dengan sesama jenis, disetrum alat-alat kelaminnya, dibakar dengan lilin panas dan disuruh berdiri berjam-jam di bak kamar mandi yang padat kotoran manusia dan air kencing.

Mantan tapol lain, Myo Myint (45), ditahan tahun 1989 setelah ia mundur dari dinas tentara dan bergabung dengan gerakan prodemokrasi. Ia menceritakan, selama diperiksa, tubuhnya ditelanjangi dan diikat ke papan yang bisa digerakkan. Selama empat jam papan itu diangkat sehingga kepala Myo berada di bawah. Kemudian ketika ia tampak lunglai, tentara pun menyiramnya dengan air. Hal itu dilakukan selama ia diperiksa. Kadang kala, para tentara yang memeriksanya meletakkan tas di atas kepalanya dan menendang dirinya.

“Sampai saat ini saya masih suka bermimpi buruk. Saya sering terbangun tengah malam dengan tubuh penuh keringat dingin,” tuturnya (45 tahun).

Oo Tezaniya (42) seorang biksu yang mendekam delapan tahun tiga bulan di penjara, juga menuturkan pengalaman pahitnya menentang pemerintah. Oo diseret ke pusat interogasi, dipukuli dengan senapan dan dilemparkan ke sel gelap selama sebulan bersama dua tahanan lainnya. Di dalam sel itu tidak ada kamar mandi dan kakus.

“Di mana-mana kotoran manusia, di dinding, di lantai,” ia mengenang

Terkait hal itu, Utusan Khusus PBB untuk Myanmar Ibrahim Gambari mengingatkan junta militer bahwa pergolakan di Myanmar akan memberi dampak sangat buruk bagi pimpinan junta itu sendiri. Oleh karena itu, ia mendesak rezim untuk membebaskan seluruh tahanan politik. “Tidak ada satu pun negara yang bisa bertahan di tengah isolasi dari standar-standar normal yang dianut seluruh masyarakat internasional,” tukas Gambari dalam pernyataan pertamanya setelah pulang dari Myanmar. [AP/Y-2] AFP/Emmanuel DUNAND/ Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: