Oposisi Tolak Musharraf, 30 Orang Tewas di Perbatasan Pakistan

Koalisi oposisi Pakistan, Minggu (7/10), menyatakan menolak kemenangan mutlak Jenderal Pervez Musharraf dalam pemilihan presiden. Mereka menyatakan, pemilu yang dimenangi Musharraf merupakan pemilu paling kontroversial dalam 60 tahun sejarah Pakistan.

Pemimpin Gerakan Demokrasi Semua Partai Anti-Musharraf, yang juga anggota DPR Pakistan, Raja Zafarus Haq, mengatakan, Musharraf tidak sah sebagai kandidat presiden sebab dia masih menjabat sebagai kepala staf Angkatan Darat ketika pemilu berlangsung.

Haq mengungkapkan, aliansinya akan bertemu dalam beberapa hari untuk memutuskan langkah-langkah melawan Musharraf. Haq tidak menjelaskan langkah-langkah apa saja yang mungkin diambil aliansinya.

Musharraf menegaskan bahwa boikot yang dilakukan kubu oposisi tidak mengurangi legitimasi pemilu. “Demokrasi ditentukan oleh mayoritas, tidak peduli ada oposisi atau tidak,” ujar Musharraf kepada para wartawan di halaman kediamannya.

“Mayoritas telah memilih saya. Oleh karena itu, hasil itu harus diterima,” tambahnya.

Musharraf memenangi pemilu presiden yang digelar di parlemen dengan suara mutlak. Dia menyapu 671 suara parlemen pusat dan provinsi. Pesaingnya, Wajihuddin Ahmed dan Makhdoom Amin Fahim, masing-masing memperoleh tujuh dan nol suara.

Pemilu itu sendiri diwarnai boikot kubu oposisi. Dari 1.170 anggota parlemen, hanya 685 orang yang memberikan suara.

Selain itu, kemenangan tersebut juga belum menjamin Musharraf untuk melenggang ke kursi presiden. Pasalnya, Mahkamah Agung (MA) Pakistan menangguhkan pengesahan Musharraf sebagai pemenang pemilu. MA akan memutuskan apakah pemilu itu sah dan apakah Musharraf juga sah sebagai kandidat. Menurut rencana, MA akan bertemu untuk membicarakan keputusan itu pada tanggal 17 Oktober.

MA bersikap seperti itu karena sebelumnya ada tuntutan kubu oposisi yang meminta lembaga itu membatalkan pencalonan Musharraf sebagai kandidat presiden. Alasannya, Musharraf masih menjabat sebagai kepala staf Angkatan Darat ketika bertarung dalam pemilu.

Sulit menganulir

Sejumlah pengamat tidak yakin MA berani menganulir kemenangan Musharraf. “Meskipun itu adalah sebuah pemilu yang kontroversial, sarat masalah, dan diwarnai protes partai-partai, menurut saya, sulit bagi MA untuk membatalkannya,” ujar pengamat Shafgat Mahmood.

Pengamat lain, Hassan Askari Rizvi, mengatakan, MA mungkin takut situasi akan kacau jika kemenangan Musharraf dibatalkan. Sebagai presiden dan kepala staf Angkatan Darat, lanjutnya, Musharraf bisa saja menetapkan situasi darurat, bahkan undang-undang darurat, dengan alasan menjaga stabilitas.

Pembatalan kemenangan Musharraf diperkirakan akan menyeret Pakistan ke dalam krisis politik yang parah. Pasalnya, Musharraf hampir tidak mungkin menyerahkan kemenangannya begitu saja.

30 orang tewas

Sejak beberapa tahun belakangan, popularitas Musharraf di mata rakyat terus menurun. Musharraf yang bersekutu dengan Amerika Serikat dianggap gagal dalam perang melawan terorisme.

Hari Minggu, daerah perbatasan Pakistan-Afganistan bergolak lagi menyusul bentrokan antara tentara pemerintah dan kelompok garis keras. Akibat bentrokan itu, setidaknya 30 orang tewas. Mereka terdiri dari 20 anggota kelompok garis keras, 6 tentara pemerintah, dan empat warga sipil.

Juru bicara militer Pakistan, Mayjen Waheed Arshad, mengatakan, bentrokan terjadi setelah pasukan pemerintah melancarkan serangan ke markas dan tempat persembunyian kelompok garis keras di daerah konflik, Waziristan Utara.(AP/AFP/REUTERS/BSW) Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: