Dua Persoalan Besar Malaysia

Tidak setiap pemimpin berani bicara apa adanya. Berbicara jujur, terus terang, apa adanya membutuhkan keberanian, untuk menanggung segala risikonya.

Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi dengan jujur mengakui bahwa masalah ras dan agama masih menjadi soal di negerinya. Bahkan, kadang-kadang, isu tersebut membuat bangsa “hampir hancur”, seperti dikutip koran Sunday Star, Minggu.

Badawi menyadari bahwa bicara apa adanya itu bisa menyakitkan. Akan tetapi, ia pun memahami bahwa ketidakjujuran, kepura-puraan, bisa meruntuhkan bangunan fitrah manusia. Karena itu, ia tidak menutupnutupi sekadar memberikan penghiburan.

Bicara masalah ras dan keagamaan memang bisa menimbulkan salah pengertian, salah sangka, dan bahkan tidak jarang memicu terjadinya perpecahan. Hal itu terjadi karena adanya ketidakjujuran, ketidaktulusan, dalam hubungan antaras dan antaragama.

Akan tetapi, hanya dengan berbicara jujur, terbuka, yang semula menjadi persoalan itu akan dapat dicarikan jalan penyelesaiannya. Badawi tidak menutup-nutupi bahwa Malaysia masih bersoal dalam urusan ras dan agama. Selama ini kita juga paham bahwa dalam banyak hal, entah itu di bidang ekonomi maupun politik, ras Melayu (50,4 persen)-lah yang lebih diuntungkan dibandingkan ras-ras lain, seperti India (7,1 persen) dan China (23,7 persen). Penduduk Malaysia 24,8 juta jiwa.

Hal itu yang menghambat kemajuan Malaysia. Badawi mengatakan, apabila masalah ras dan agama masih menjadi persoalan, keinginan Malaysia menjadi kekuatan ekonomi ketiga di Asia tak akan dapat diwujudkan.

Kalau keberadaan ras dan agama harus dibela dengan kekerasan, pertanyaannya adalah apakah sumbangannya terhadap peradaban manusia? Rasa saling curiga tidak boleh dibiarkan berlanjut dan berlarut-larut. Kecurigaan akan menghasilkan ketidakjujuran dan ketidaktulusan sehingga meremukkan tubuh dan jiwa bangsa.

Pluralisme agama, ras, dan budaya sejak ribuan tahun silam sudah merupakan fakta nyata dalam sejarah. Hal tersebut harus diakui, dihormati, dan juga disyukuri. Mengapa? Sebab, apabila dilihat dari perspektif yang lebih luas, fenomena tersebut telah memperkaya bangunan kemanusiaan universal.

Itulah yang harus dipelihara dan dipupuk terus-menerus, dengan kejujuran, ketulusan, kebersihan hati. Sebab, ketulusan sejati sulit dijumpai di dalam peradaban modern sekarang ini. Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: