Kontak Junta-Suu Kyi Intensif, Militer dan Keluarga Beri Sumbangan bagi 50 Vihara

Kontak antara junta militer dan Aung San Suu Kyi makin diintensifkan. Junta menunjuk Wakil Menteri Tenaga Kerja Aung Kyi untuk membina hubungan dengan Suu Kyi.

Demikian diumumkan televisi negara Myanmar, Senin (8/10) di Yangon. Di permukaan, hal ini menunjukkan perbaikan. Selama ini sangat jarang terjadi komunikasi antara junta dan Suu Kyi.

Harian milik pemerintah, New Light of Myanmar, juga memberitakan bahwa tuntutan demonstran akan dipenuhi. Syaratnya, demonstran jangan lagi turun ke jalan, tetapi turuti saja tujuh langkah menuju demokrasi yang sudah disusun junta. Tuntutan demonstran adalah turunkan harga-harga, bebaskan Suu Kyi, dan lakukan rekonsiliasi nasional. “Tiga tuntutan itu tak akan bisa dipenuhi lewat aksi protes,” demikian harian Myanmar tersebut.

Tak ada keterangan lanjut dari berita tersebut. “Kebaikan” junta itu ditanggapi skeptis. “Media milik pemerintah merupakan organ propaganda dan tak dianggap serius di Myanmar,” kata Soe Aung, jubir Dewan Nasional untuk Persatuan Burma, koalisi oposisi berbasis di Thailand.

Simbol rekonsiliasi

Berikut ini adalah bentuk lain dari keinginan junta militer untuk rekonsiliasi dengan biksu. Sekitar 8.000 dollar AS atau sekitar Rp 72 juta dana, makanan, dan obat disumbangkan ke 50 vihara yang ada di Yangon.

Media pemerintah mengatakan sumbangan itu telah diterima biksu. Bulan lalu, organisasi biksu sudah mengharamkan semua jenis sumbangan dari militer dan keluarganya. Penolakan ini merefleksikan ekskomunikasi antara biksu dan militer serta keluarganya.

Menurut harian Myanmar, Letjen Myint Swe dari Dephan ditugasi mendistribusikan bantuan itu. Tidak ada komentar resmi para biksu soal donasi junta yang menistakan rohaniwan itu.

Harus memahami

Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda pada rapat kerja dengan Komisi I DPR, Senin di Jakarta, mengatakan, kunci penyelesaian Myanmar adalah sikap fleksibel sehingga perundingan bisa dilakukan. Indonesia, kata Menlu, mengambil sikap untuk menjadi bagian dari solusi.

Hassan memaparkan, perlu pemahaman lebih dalam mengenai apa yang dihadapi Myanmar. Persoalannya bukan hanya masalah demokratisasi dan HAM, tetapi Myanmar yang merasa tidak aman dalam hal pembentukan bangsanya.

“Ada banyak ancaman separatisme dari kelompok-kelompok minoritas. Kita bisa merasakan persoalan itu karena Indonesia juga negara yang multi-etnik, yang menghadapi ancaman separatisme,” kata Menlu.

Masalah kedua, tambah Menlu, ada rasa tidak aman di kalangan militer dengan lahirnya rezim yang demokratis. Oleh karena itu, perlu ada periode transisi. “Jangan lupa, kita baru saja mengalami perubahan dari pemerintahan Orde Lama ke demokrasi. Ada yang bisa kita bagi dari pengalaman kita,” kata Hassan.

Ia pun menolak dorongan agar Indonesia mengeluarkan Myanmar dari ASEAN. Pada hari yang sama, delegasi DPR pada pertemuan Inter-Parliamentary Union ke-117 di Geneva, Swiss, mengusulkan kepada ASEAN untuk menskors keanggotaan Myanmar.

Meski demikian, komunitas internasional tak mau mengambil sikap lunak terhadap junta, yang dicap telah bertindak brutal dalam waktu lama. Sebuah lembaga internasional bernama Forum 2000, terdiri atas pebisnis, akademisi, dan pemimpin politik, menyerukan pemulihan demokrasi segera di Myanmar.

Di forum itu ada mantan Presiden Ceko Vaclav Havel, penerima Hadiah Nobel Perdamaian Elie Wiesel, dan filantropis Jepang Yohei Sasakawa. Mereka menyerukan pembebasan segera atas Suu Kyi serta penyelidikan atas perbuatan brutal aparat junta kepada demonstran. Forum ini juga meminta embargo senjata internasional terhadap Myanmar. “Adalah kewajiban semua orang untuk membela kebebasan individu,” kata Havel.

Pernyataan itu didukung mantan Menteri Luar Negeri AS Madeleine Albright, penerima Hadiah Nobel dari Iran Shirin Ebadi, dan mantan Presiden Bank Dunia Paul Wolfowitz. (REUTERS/Ap/AFP/OKI) Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: