Warisan Junta Mimpi Buruk Mantan Tahanan Politik Myanmar

Laporan mengenai penyiksaan yang dialami para pemrotes junta militer Myanmar yang ditangkap sejak September lalu seolah membuka kembali mimpi buruk yang dialami para mantan tahanan politik Myanmar di pengasingan. Mereka tidak habis pikir mengapa kekerasan tidak ada habisnya menimpa rakyat Myanmar.

Sejumlah mantan tahanan politik yang ditemui di markas Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) di Mae Sot, kota perbatasan sebelah barat Thailand, menuturkan penyiksaan yang mereka alami di dalam tahanan. Mereka ingin dunia tahu bahwa junta tidak pernah berhenti menggunakan kekerasan dan mereka adalah buktinya.

Junta sering menyangkal bahwa mereka memperlakukan tahanan dengan tidak manusiawi. Bo Kyi, aktivis semasa protes tahun 1988, menuturkan, dia ditangkap tidak lama setelah aksi protes berlangsung dan dibawa ke Penjara Insein. “Selama 36 jam pertama setelah ditangkap, saya tidak diberi makan,” katanya. Selanjutnya, siksaan datang bertubi-tubi. Dipukul dan ditendang adalah makanan sehari-hari. Setiap hari, dia diinterogasi.

“Suatu ketika, orang yang menginterogasi saya dalam keadaan mabuk. Mereka memukuli saya dengan tongkat kayu,” ujar Bo Kyi. Akibatnya, dia tidak bisa berjalan normal selama beberapa waktu lamanya. Bo Kyi, yang waktu itu masih berstatus mahasiswa dan tergabung dalam Federasi Serikat Pelajar Seluruh Burma, kemudian dipenjara selama 1990-1993. Setelah dibebaskan, dia dipenjara lagi tahun 1994-1998.

Akhirnya, dia memilih lari dari Myanmar. “Sampai sekarang saya masih sering bermimpi buruk. Tentara-tentara mengejar saya, kemudian memukuli saya dan menyekap saya di ruang sempit dan gelap,” tutur Bo Kyi.

Tidak berbeda jauh dengan kisah biksu U Te Za Ni Ya (42). Sebelum menjadi biksu, Ni Ya adalah aktivis protes 1988. Dia diciduk tengah malam, lalu dibawa ke penjara. Dia menghabiskan waktu selama delapan tahun tiga bulan di penjara, tiga bulan di antaranya di Penjara Insein, dan dibebaskan tahun 1997.

Popor senapan, kayu, dan sepatu tentara pernah mendarat di tubuhnya yang kurus. Bekas-bekas penyiksaan fisik itu memang sudah hilang, tetapi trauma mental masih sering menghantui. Setelah melarikan diri ke Mae Sot tahun 1998, dia mencukur habis rambutnya dan menjadi biksu untuk mendapat ketenangan jiwa. “Saya banyak menghabiskan waktu di penjara bersama para biksu. Akhirnya, saya menjadi salah satu dari mereka,” kata Ni Ya.

Penjara Insein, yang menjadi simbol kekejaman junta militer Myanmar, memang benar-benar membuat orang menjadi gila. “Kalau dilafalkan, nama Insein itu terdengar seperti insane (gila). Kalau banyak orang menjadi gila setelah keluar dari tempat itu, barangkali memang ada benarnya juga,” kata Zin Linn, anggota Liga Nasional untuk Demokrasi pimpinan Aung San Suu Kyi dan anggota parlemen yang menang dalam pemilu 1990.

Zin Linn pernah mencicipi penyiksaan di Insein selama tujuh tahun. “Saat itu, saya orang yang paling diburu junta karena saya memimpin buletin yang menerbitkan semua kekejaman junta kepada rakyat,” tuturnya.

Tidak jauh dari pengalaman rekan-rekannya, penyiksaan berat dialami pria paruh baya ini. Lari dari Myanmar akhirnya menjadi pilihan tak terelakkan.

Tetap berjuang

Namun, semua penderitaan yang mereka alami justru mendorong para mantan tahanan politik itu untuk terus berjuang walaupun tidak berada di Myanmar. Mereka membentuk organisasi-organisasi yang terus menyuarakan perjuangan rakyat Myanmar yang menginginkan demokrasi dan kehidupan yang lebih baik.

“Kami membentuk jaringan dan memonitor selama 24 jam pergerakan rekan-rekan kami di Myanmar. Lalu, tugas kami adalah menyebarkan dan menyampaikannya kepada dunia luar,” kata Bo Kyi.

AAPP kini menjadi rumah bagi ratusan mantan tahanan politik Myanmar lain yang lari dari Myanmar. Menurut Bo Kyi, jumlah tahanan politik di Myanmar saat ini mencapai sekitar 2.000 orang dan dipastikan akan terus meningkat.

Zin Linn bergabung dalam organisasi Koalisi Pemerintah Nasional Myanmar yang berbasis di Bangkok. Di Bangkok, mereka lebih leluasa mengakses dan menyebarkan informasi ke seluruh dunia. Dari organisasi ini pula berbagai informasi mengenai protes di Myanmar baru-baru ini sampai kepada dunia luar. Fransisca Romana / Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: