Pengungsi Irak Terlunta-lunta, Pemerintah AS Tutup Mata soal Pengungsi

Komisi Tinggi Urusan Pengungsi PBB atau UNHCR mengatakan, pilihan warga Irak makin terbatas untuk mendapatkan lokasi pengungsian. Makin banyak daerah yang tidak mau mengurusi pengungsi, yang membuat mereka terlunta-lunta. AS pun tak peduli soal pengungsi Irak.

Kepala Unit Pendukung Irak di UNHCR Andrew Harper, Selasa (9/10) di Washington, menyatakan, saat ini ada 11 provinsi di Irak yang melarang pengungsi masuk karena keterbatasan fasilitas untuk menampung para pengungsi.

Berdasarkan catatan UNHCR, sejak invasi Amerika Serikat (AS) tahun 2003, lebih dari 2,2 juta warga Irak yang mengungsi ke daerah lainnya. Sekitar 2,2 juta warga Irak lainnya memilih mengungsi ke negara-negara tetangga, seperti Suriah dan Jordania.

Harper menyatakan, Irak kewalahan menangani pengungsi internal yang terus meningkat. Dari 18 provinsi, sudah ada 11 provinsi yang menolak kedatangan pengungsi. Jika ada yang nekat masuk, mereka diancam tak diberi makanan dan pendidikan. “Jumlah provinsi yang menutup diri makin banyak, sementara situasi di Irak makin kacau,” kata Harper.

Daerah-daerah di Irak yang selama ini menjadi tujuan pengungsi sudah terlalu padat. Jumlah pengungsi Irak—baik keluar maupun di dalam Irak sendiri—rata-rata bertambah 100.000 orang per bulan. Peringatan UNHCR muncul seiring dengan keputusan negara tetangga Irak untuk menolak pengungsi. Alasannya, mereka tak lagi sanggup menanggung hidup pengungsi.

Lembaga Amnesty International menuding AS menutup mata soal pengungsi Irak. Akibat invasi AS, Pemerintah Suriah paling banyak menampung pengungsi Irak. Sampai sekarang Suriah menampung sekitar 1,4 juta dan Jordania 750.000 orang.

AS lambat

Upaya AS untuk menampung pengungsi Irak berjalan lamban karena minimnya anggaran. Pekan lalu AS baru mengumumkan tahun 2008 akan menampung 12.000 pengungsi. Presiden AS George W Bush dalam memorandum kepada Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice menyebutkan, AS tengah mempertimbangkan menerima maksimal 80.000 pengungsi selama 12 bulan mendatang.

Kelambatan penanganan para pengungsi itu, menurut Direktur Program Pengungsi Konferensi Keuskupan AS Anastasia Brown, karena pengungsi harus melalui proses wawancara, pemeriksaan kesehatan, dan keamanan dengan UNHCR dan Pemerintah AS. Proses itu bisa memakan waktu setahun. (BBCNEWS/AFP/LUK) Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: