Dalai Lama, Kekuasaan dan Pengaruh

Sekalipun kehilangan kekuasaan dan hidup di pengasingan, pengaruh tokoh spiritual Tibet, Dalai Lama, melambung jauh ke berbagai penjuru dunia.

Pengaruh besar Dalai Lama terlihat begitu jelas pula pada kekisruhan hubungan China-Amerika Serikat pekan ini. China mengecam keputusan Kongres AS yang memberikan Medali Emas Kongres, penghargaan sipil tertinggi AS, kepada Dalai Lama.

Upacara pemberian penghargaan hari Rabu 17 Oktober itu dihadiri Presiden AS George Walker Bush. Pemerintah China mengingatkan, pemberian penghargaan itu akan merusak hubungan kedua negara. Sengaja atau tidak, upacara penghargaan justru dilakukan di tengah Partai Komunis China menyelenggarakan kongres ke-17, yang dibuka awal pekan ini.

Para pengamat cenderung berpendapat, apa pun alasan dan pertimbangannya, pemberian penghargaan yang begitu tinggi kepada Dalai Lama oleh AS jangan-jangan juga mengandung tujuan untuk mengusik China. Jelas, China sangat terusik.

Kebetulan hubungan kedua negara sedang diwarnai perebutan pengaruh ekonomi dan militer di panggung kawasan dan global. AS sebagai negara adidaya merasa sedang dibayang-bayangi oleh China, yang sedang menggeliat dalam pembangunan ekonomi dan militer.

Terlepas dari masalah persaingan kedua negara besar itu, penghargaan demi penghargaan internasional yang diberikan kepada Dalai Lama memperlihatkan sosok, peran tokoh spiritual itu, yang tidak kalah dari seorang kepala pemerintahan dan negara.

Sekalipun China terus-menerus melecehkan Dalai Lama, bahkan mencitrakannya sebagai tokoh separatis berbahaya, pengakuan dan penghargaan terus mengalir, termasuk penghargaan internasional paling bergengsi, Nobel Perdamaian tahun 1989.

Tentu saja China berhasil menghancurkan kekuasaan Dalai Lama dengan menginvasi Tibet tahun 1950, tetapi tidak dapat menghilangkan pengaruhnya, yang justru meningkat setelah mengasingkan diri ke India sejak tahun 1959.

Ruang pengaruh Dalai Lama bahkan jauh lebih besar dan tinggi ketimbang kekuasaan yang digenggamnya ketika menjadi pemimpin pemerintahan sekaligus pemimpin spiritual di Tibet sebelum mengasingkan diri.

Popularitas Dalai Lama (72) terus berkibar karena ikut mengampanyekan tanggung jawab sosial, perdamaian, harmoni, dan pelestarian lingkungan.

Pemerintah China pun tidak berdaya dan dibuat frustrasi karena para pemimpin negara dan agama dunia menerima Dalai Lama sebagai layaknya tamu agung. Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: