5 Juta Warga Kelaparan, Utusan PBB: Dukungan dan Insentif Dapat Mengubah Myanmar

bangkok, kamis – Program Pangan Dunia PBB menyatakan, sekitar lima juta orang atau 10 persen dari penduduk Myanmar terancam kelaparan. Lumpuhnya pasar dan tindakan represif junta militer Myanmar semakin memperburuk kehidupan rakyat di negara yang pernah menjadi lumbung padi Asia itu.

Tony Banbury, Direktur Program Pangan Dunia (WFP) wilayah Asia, mengatakan, di negara surplus bahan pangan seperti Myanmar tidak seharusnya rakyat kelaparan. “Myanmar bisa menghasilkan surplus bahan pangan dengan mudah. Negara ini gagal memberi makan rakyat. Jutaan penduduk tidak memiliki cukup pangan,” kata Banbury, Kamis (18/10) di Bangkok.

Sejak krisis pecah di Yangon dan sejumlah kota di Myanmar akibat protes kenaikan harga bahan bakar minyak, disusul tindakan keras junta menghadapi protes, WFP kesulitan mendistribusikan bahan pangan kepada warga di wilayah terpencil.

Banbury menyayangkan, melimpahnya simpati dunia terhadap situasi terakhir di Myanmar tidak diterjemahkan dalam dukungan kerja kemanusiaan untuk rakyat di negara itu. Hanya Australia yang memberikan dana kepada WFP untuk menjalankan program di Myanmar, sebesar 2,7 juta dollar AS. “Karena dana kurang, WFP hanya bisa membagikan makanan kepada 250.000 orang, jauh dari target kami yaitu 500.000 orang,” kata Banbury.

PBB memperkirakan, sepertiga anak berusia di bawah lima tahun di Myanmar kekurangan berat badan. Sekitar 10 persen di antaranya mengalami gizi buruk. Angka kematian anak mencapai 106 per 1.000 anak, terhitung yang terburuk di Asia.

Keadaan itu diperparah dengan tindakan junta yang terus memaksa petani menjual hasil panen kepada junta dengan harga di bawah harga pasar. Junta juga menolak untuk melonggarkan larangan perdagangan bebas yang memungkinkan munculnya pasar yang layak bagi rakyat.

Sementara itu di Jakarta, Kamis, Utusan Khusus PBB untuk Myanmar Ibrahim Gambari menyatakan, agar masalah Myanmar selesai, junta militer bisa diberikan semacam insentif. “Komunitas internasional harus memberikan dorongan kuat sekaligus insentif. Dunia agar jangan hanya menghukum Myanmar,” kata Gambari setelah bertemu Menteri Luar Negeri RI Hassan Wirajuda.

Gambari berharap Indonesia dapat mengajak junta militer melanjutkan proses demokrasi. Dalam pertemuan singkatnya dengan Hassan, Gambari mengaku membahas rencana pengintensifan kerja sama PBB dengan ASEAN untuk menyelesaikan persoalan Myanmar. “Kita tetap harus memantau semua tindakan junta militer,” kata Gambari yang akan kembali ke Myanmar, November mendatang. Gambari juga akan berkunjung ke India, China, dan Jepang pekan depan soal Myanmar.

Bertemu presiden

Ketika bertemu Gambari, Kamis siang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengharapkan agar keberhasilan awal Gambari di Myanmar disusul keberhasilan lain sehingga misinya sukses dan ASEAN tidak perlu berbicara mengenai sanksi.

Hassan mengemukakan keberhasilan misi Gambari terlihat dari tindak lanjut pemimpin junta militer Jenderal Tan Swe yang menugaskan wakilnya berdialog dengan Aung San Suu Kyi.

Kepada Jenderal Tan Swe, Presiden mengirim surat berisi penghargaan atas respons junta menerima kunjungan Gambari, termasuk mempertemukan Gambari dengan Aung San Suu Kyi.

Deputi I Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program dan Reformasi Letjen (Purn) Agus Widjojo telah berkunjung ke Myanmar untuk mewakili Presiden Yudhoyono menghadiri pemakaman PM Myanmar Soe Win. “Untuk mempererat kerja sama saja. Saya menyampaikan pesan Indonesia siap jika Myanmar ingin mengajak kerja sama mencari solusi atas masalah mereka,” kata Agus.

Dibebaskan

Dari Yangon diberitakan, junta membebaskan tiga selebriti yang ditahan karena terlibat aksi protes menentang junta. Komedian Zaganar dan aktor Kyaw Thu beserta istrinya dibebaskan Rabu malam waktu setempat.

Zaganar ditangkap pada 26 September, sedangkan Kyaw Thu ditangkap pada 10 Oktober. Mereka membagikan makanan dan air kepada para biksu yang menggelar protes di sekitar Pagoda Shwedagon.

Pembebasan ketiga selebriti dilakukan di tengah gencarnya tekanan internasional agar junta membebaskan tahanan politik. Namun, penangkapan aktivis prodemokrasi masih berlanjut.

Kemarin, junta menyatakan telah menemukan bahan peledak dalam jumlah besar yang disembunyikan seorang biksu di sebuah wihara. Temuan itu mengarah pada U Kovida, biksu berusia 23 tahun dari wihara Nan Oo. Tidak disebutkan apakah Kovida telah ditangkap atau tidak. (ap/afp/fro/iNU/DWA/LUK)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: