India Diminta Lebih Tegas, Myanmar Bisa Terjerumus dalam Perang Sipil

new delhi, senin – Utusan Khusus PBB untuk Myanmar Ibrahim Gambari meminta India bertindak lebih keras terhadap junta militer Myanmar. India dianggap salah satu negara kunci yang bisa menekan junta. Akan tetapi, India dinilai terlalu diam menghadapi krisis di Myanmar.

Gambari tiba di New Delhi, Senin (22/10), dalam rangkaian tur ke negara-negara Asia guna menggalang tekanan terhadap junta. Gambari dijadwalkan bertemu Perdana Menteri Manmohan Singh untuk mendesak India bergabung dengan upaya internasional menekan junta.

Kendati didesak banyak pihak, India tampaknya enggan mengambil tindakan keras terhadap Myanmar. Pasalnya, India telah menjalin hubungan ekonomi dan militer yang erat dengan junta selama satu dekade terakhir.

India memerlukan akses atas kekayaan gas alam Myanmar untuk memenuhi kebutuhan energi yang besar akibat pertumbuhan ekonomi yang pesat. India juga perlu menjalin hubungan dengan Myanmar untuk mengimbangi pengaruh China.

Di tengah aksi protes menentang junta, India justru mengirim Menteri Perminyakan Murali Deora ke Myanmar untuk menandatangani perjanjian eksplorasi gas senilai 150 juta dollar AS. Tidak lama setelah junta menembaki pemrotes, India menyatakan tetap meneruskan rencana pembangunan pelabuhan di pantai barat laut Myanmar.

India juga mempertahankan hubungan militer dengan Myanmar untuk menghalangi kelompok separatis di timur laut India yang berbatasan dengan Myanmar.

Pekan lalu, PM Singh menegaskan penolakan untuk menjatuhkan sanksi bagi junta. “Myanmar adalah tetangga dekat kami dan kadang-kadang Myanmar tidak bisa memenuhi keinginan semua pihak,” kata Singh, seperti dikutip Indian Express.

India menyatakan telah melakukan diplomasi di belakang layar yang dianggap lebih efektif menekan junta daripada menjatuhkan sanksi.

Perang sipil

Di Singapura, Menteri Luar Negeri George Yeo kembali menekankan bahwa sanksi dan isolasi hanya akan mempersulit upaya rekonsiliasi di Myanmar. ASEAN juga tidak bisa mendepak Myanmar dari keanggotaan karena membahayakan masa depan kawasan Asia Tenggara.

“Tanpa junta militer, Myanmar bisa terjerumus dalam perang sipil. Myanmar memiliki banyak kelompok suku, beberapa di antaranya bersenjata dan dapat dengan mudah memulai pemberontakan di wilayah perbatasan,” kata Yeo di hadapan parlemen Singapura.

“Hal terakhir yang kita inginkan adalah situasi Yugoslavia atau Irak di pekarangan kita,” ujarnya. Yeo menambahkan, prioritas ASEAN saat ini adalah mendukung upaya mediasi yang dilakukan Gambari.

Sebagai ketua ASEAN, Singapura mengharapkan Myanmar menghadiri konferensi tingkat tinggi yang digelar di negara itu, November mendatang. Agenda KTT ASEAN adalah penandatanganan Piagam ASEAN guna membentuk badan hak asasi manusia. (ap/afp/reuters/fro)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: