Kasus Myanmar Tak Seluruhnya Gagal

Perkembangan politik di Myanmar belakangan ini semakin memperkuat kesimpulan, gerakan pembangkangan sipil bulan lalu tidak seluruhnya gagal.

Gerakan pembangkangan yang dimotori kalangan biksu itu membuat junta militer menjadi gerah dan terus terpojok oleh gelombang kecaman dunia internasional.

Suka atau tidak, junta merasa perlu membangun komunikasi politik, terutama dengan tokoh oposisi Aung San Suu Kyi yang berada dalam tahanan rumah, untuk meredam ketegangan.

Sekalipun gerakan pembangkangan dipatahkan secara keras bulan lalu, kebencian rakyat terhadap junta telah menjadi api dalam sekam. Lebih-lebih karena sedikitnya 10 orang tewas dan hampir 3.000 orang ditahan dalam pergolakan bulan lalu itu.

Sebelum api kebencian rakyat bergelora lagi secara terbuka, perlu kanalisasi yang antara lain dilakukan junta dengan bertemu Suu Kyi hari Kamis 26 Oktober di Wisma Negara, Yangon.

Hasil pertemuan Suu Kyi dengan Wakil Menteri Tenaga Kerja Aung Kyi, yang ditunjuk pemimpin junta Jenderal Than Shwe, itu tidak diumumkan. Setelah pertemuan, Aung Kyi kelihatan tersenyum lebar, sementara Suu Kyi tampak dingin, yang mengisyaratkan tidak adanya terobosan.

Meski demikian, pertemuan itu termasuk perkembangan positif karena sejauh ini junta sangat enggan bertemu dengan Suu Kyi yang diposisikan sebagai musuh politik yang sangat berbahaya.

Junta juga memperlihatkan sikap tidak peduli terhadap tekanan Uni Eropa, Amerika Serikat, dan ASEAN bagi reformasi politik menuju demokrasi di negeri yang selama 45 tahun berada di bawah rezim militer itu. Tekanan berupa sanksi ekonomi dan militer tidak dihiraukan junta.

Rupanya junta tidak bisa lagi bersikap cuek setelah mendapat guncangan keras oleh gerakan pembangkangan sipil bulan lalu. Timbul semacam kekhawatiran, jangan-jangan gerakan pembangkangan itu hanya surut untuk sesaat, tetapi bisa kembali lagi dalam kekuatan yang lebih besar, yang dapat mengempaskan junta.

Gerakan pembangkangan bulan lalu merupakan isyarat buruk bagi junta. Sudah pasti pula situasi akan runyam jika muncul gelombang baru pembangkangan yang lebih hebat.

Sebelum keadaan menjadi runyam, kompromi politik memang dibutuhkan, yang menjamin dan memastikan proses perubahan bertahap agar tidak terjadi anarki yang merugikan masa depan negara-bangsa Myanmar. Kompas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: